Manfaat Detoks

Setiap hari tubuh manusia terpapar pada racun atau toksin, balk dari sisa hasil metabolisme yang tidak diharapkan, maupun dari luar tubuh manusia, melalui makanan, minuman, dan udara. Semakin banyak polusi udara di lingkungan dan semakin banyak kita memperoleh toksin dari makanan dan minuman, maka semakin besar pula peluang tubuh kita menumpuk toksin. Bila toksin ini menumpuk dalam tubuh, maka akan mengganggu kerja sel dan jaringan tubuh, bahkan merusak, sehingga dapat menimbulkan berbagai penyakit. Gejala sederhana yang menunjukkan bahwa di dalam tubuh banyak terdapat toksin adalah keringat berbau tak sedap, mudah pusing, mual, mengantuk, dan badan terasa lemah meski telah banyak makan.

Detoks merupakan proses menjinakkan dan membersihkan toksin di dalam tubuh. Topik dan materi detoks saat ini semakin banyak dibicarakan dalam kaitannya sebagai salah satu pendekatan alami untuk mengatasi masalah kegemukan, meningkatkan imunitas, serta pencegahan dan terapi penyakit, sehingga kita dapat mencapai hidup sehat dan bugar secara optimal. Detoks dapat dilakukan dengan pengaturan asupan jumlah serta jenis makanan dan minuman, serta cara mengonsumsinya. Salah satu pengaturannya adalah dengan cara puasa, balk sebagai bagian dari ibadah ataupun bukan sebagai bagian ibadah.

Ketika puasa, sel dan organ pencernaan tubuh bekerja lebih ringan bahkan amat ringan pada siang hari. Dalam kondisi ini sel dan jaringan tubuh melakukan metabolisme zat di dalam tubuh, dan membersihkan serta mengeluarkan zat tak berguna dan toksin. Bila, puasa dilakukan dengan pengaturan makanan dan minuman yang balk untuk detoks, maka akan diraih manfaat tambahan puasa yaitu untuk detoks dan kesehatan. Tetapi kadang ada orang yang setelah melaksanakan puasa tampak bertambah gemuk dan tidak sehat. Ini pertanda ada yang salah dalam pengaturan makanan, minuman, dan gaya hidupnya selama puasa.

Orang yang melaksanakan puasa sebagai ibadah tentu akan mendapat imbalan spiritual dan hikmah dari Tuhan Yang Maha Esa. Buku ini dimaksudkan sebagai sumber informasi detoks saat puasa untuk hidup lebih sehat dan bugar, bukanlah sebagai panduan medis. Oleh karena itu, bila pembaca ingin menerapkan detoks untuk terapi penyakit, silakan berkonsultasi dengan dokter dan ahli gizi yang ahli mengenai detoks.

Secara fitrah tubuh manusia telah memiliki kekuatan yang mampu menjaga kesehatan dirinya. Setiap manusia dianugerahi paru-paru, usus, hati, dan ginjal yang salah satu fungsi utamanya adalah untuk membersihkan toksin atau racun. Manusia terpapar setiap hari pada toksin. Semakin banyak toksin yang masuk ke dalam tubuh, semakin berat kerja organ-organ internal tubuh tersebut. Mekanisme tersebut tidak akan berfungsi dengan baik apabila tubuh dipenuhi dengan banyak toksin. Keadaan ini menjadi semakin serius jika toksin tersebut tidak dapat dibersihkan atau sulit dikeluarkan, sementara tubuh tidak mendapat zat gizi yang cukup.

Penumpukan toksin dalam tubuh dan asupan gizi yang tak lengkap akan melemahkan fungsi paru-paru, usus, hati dan ginjal, serta akan merembet ke gangguan fungsi organ tubuh lainnya. Melemahnya fungsi organ-organ tubuh ini akan disertai dengan menurunnya imunitas alias kekebalan tubuh. Kondisi ini menyebabkan berbagai penyakit mudah menyerang sementara penyakit yang sudah ada akan semakin sulit disembuhkan. Penumpukan toksin dalam tubuh biasanya ditandai dengan munculnya beberapa gejala antara lain mudah letih, pusing, mengantuk, sembelit, keringat berbau tak sedap, kulit kusam, kulit gatal, dan sakit pada persendian.

Dalam sejumlah hash! penelitian, disebutkan bahwa kondisi toksin berlebihan menjadi faktor risiko penurunan kekebalan tubuh, penuaan dini, dan penyakit kronikdegeneratif (penyakitjantung, stroke, diabetes, ginjal, dan kanker). Karena itu, toksin dalam tubuh harus dinetralkan, dibersihkan, atau dikeluarkan dari dalam tubuh. Caranya adalah dengan detoksifikasi.

Tubuh Kita Menimbun Toksin

Toksin adalah semua zat yang tidak diperlukan oleh tubuh yang bila dibiarkan di dalam tubuh akan merusak sel, menggangu kerja organ-organ tubuh, dan menimbulkan gangguan kesehatan. Pada tingkat lanjut, toksin yang terakumulasi di dalam tubuh dapat menyebabkan kematian. Tanpa kita sadari hampir setiap hari tubuh kita kemasukan toksin. Peristiwa masuknya toksin ke dalam tubuh kita disebut toksemia. Toksin dapat berasal dari zat yang sejak awal tidak diperlukan tubuh, bahkan berisiko menimbulkan penyakit seperti arsenik dan merkuri. Toksin juga dapat berasal dari zat yang awalnya diperlukan oleh tubuh, namun karena tertimbun dalam jumlah yang banyak dalam tubuh, zat ini justru mengganggu kerja sel dan berbagai proses dalam tubuh sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan. Misalnya, kelebihan zat gizi seperti mineral seng (zinc) di dalam tubuh dapat menimbulkan keracunan. Tubuh kita terpapar toksin melalui dua cara. Pertama, dari sisa hasil metabolisme, hormon, dan bakteri yang tidak diharapkan (endogenus). Kedua, dari makanan dan minuman tercemar yang kita konsumsi, udara tercemar yang kita hirup, serta terserap melalui pori-pori kulit (eksogenus). Oleh karena itu, menurut asalnya, toksin bisa digolongkan menjadi dua jenis, yaitu dari dalam tubuh (endogenus) dan dari luar tubuh (eksogenus).

Berasal dari dalam tubuh

Toksin yang berasal dari dalam tubuh berupa radikal bebas, produksi hormon berlebihan akibat stres, gangguan fungsi hormon, dan bakteri patogen yang sudah ada di dalam tubuh. Secara alamiah, toksin semacam ini merupakan “efek samping” dari proses metabolisme dan kerja sistem tubuh. Perlu diketahui, tubuh kita terdiri dari bermacam-macam organ. Organ-organ ini tersusun dari jaringan-jaringan, yang dibentuk oleh miliaran sel, di mana setiap jenis sel memiliki usia ketahanan hidup yang berbeda-beda.

Normalnya, setiap kali ada sel yang mulai aus dan rusak, metabolisme tubuh bekerja untuk memperbaiki dan menggantikannya dengan sel baru, kemudian membuang komponen sel-sel rusak tersebut melalui berbagai saluran pembuangan seperti feses, urine, keringat, dan pengelupasan sel kulit. Stres yang berkepanjangan, perubahan gaya hidup dan pola makan dapat mengakibatkan penumpukan toksin dari sisa metabolisme dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan penurunan ke-mampuan organ tubuh daIam mengeluarkan toksin.

Menurut ilmu Traditional Chinese Medicine (TCM), metabolisme yang baik ditentukan oleh 12 organ utama, yaitu paru-paru, lambung, empedu, usus besar, usus kecil, limpa, jantung, pembuluh darah, hati, ginjal, kantung kemih, dan kelenjar getah Bening. Meskipun organ-organ ini bekerja setiap saat, tetapi ada masa-masa di mana organ ini bekerja lebih berat. Sehingga organ-organ ini bekerja dengan pola puncak kegiatan yang beragam, sesuai dengan jam biologisnya (biological clock).

Bila kita mengalami stres, kurang tidur, dan bekerja hingga begadang, berbagai organ internal (paru-paru, usus, lambung, kandung empedu, pankreas, hati, jantung, dan ginjal) akan bekerja lebih berat. Padahal seharusnya organ-organ internal ini pada saat malam hari bekerja minimal. Apalagi bila ditambah dengan pola makan modern yang memiliki porsi besar, cenderung mengandung banyak gula dan lemak, serta makanan gorengan yang tinggi lemak “jahat”, seperti asam asam lemak trans. Makanan kaya lemak dan gula ini akan mengakibatkan kerja organ di dalam tubuh semakin berat untuk mencerna dan menetralisir toksin, sementara toksin dari dalam tubuh semakin meningkat.

Berasal dari luar tubuh

Toksin yang berasal dari luar tubuh meliputi toksin dari makanan dan minuman, obat, kosmetik, serta dari udara yang tercemar. Menurut Badan Pangan dan Obat Amerika Serikat (US-FDA), saat ini terdapat sekitar tujuh puluh ribu bahan kimia yang diproduksi dan dijual dalam berbagai bentuk yang terdapat dalam makanan, minuman, obat, kosmetik, produk perawatan pribadi, dan insektisida. Zat kimia ini ada yang digunakan untuk pewarna, penguat rasa, penguat tekstur, dan pengawet. Sebagian zat kimia tersebut akan menjadi sumber toksin bagi tubuh bila dikonsumsi atau digunakan melewati batas aman.

Salah satu zat yang penting untuk menjaga metabolisme tubuh adalah Collagen yang terdapat dalam Produk Terbaik Pure Collagen