Nenek-nenek Pun Bisa Hamil

Anda tak punya sel telur? Ada donor. Kekurangan donor? Ambillah sel telur dari janin gugur atau jenazah! Kecanggihan bioteknologi kedokteran telah mencapai tahapan orang geleng-geleng kepala.

Akhir tahun 1993 lalu, kalangan masyarakat di Inggris, yang terkenal sangat konservatif itu dibikin geger setelah tersiar kabar seorang wanita kaya raya berusia 59 tahun melahirkan bayi kembar pas hari Natal. Tak kurang wartawan, dokter, tokoh politik, dan pemuka agama, saling menyuarakan pendapatnya lewat berbagai media massa. Rata-rata bernada menggugat.

“Wanita yang hamil pada usia setua itu akan menghadapi beban mental yang berat,” gugat yang satu.

“Wanita seumur itu tidak sesuai lagi membesarkan bayi,” protes yang lain.

“Bagaimana nasib sang bayi itu nanti?” teriak mereka. Gugatan lainnya, si kembar bisa menghadapi persoalan akibat perbedaan usia yang kelewat jauh dengan orang tuanya.

Nyonya yang tak mau disebut namanya itu memang wanita tertua pertama yang melahirkan bayi kembar. Barangkali kalau kelahiran itu alamiah, tidak akan ada ribut-ribut. Kedua jabang bayi itu lahir lewat rekayasa bioteknologi yang pada dasarnya sama dengan metode bayi tabung. Hanya kedua janin itu hasil pencangkokan sel telur donor wanita lain berusia 20-an yang dibuahi sperma suami Ny.X, berusia 45 tahun.

Semula Ny.X tidak mendapat izin dari Komite Kesehatan Urusan Etika Medis Inggris untuk melahirkan lewat pencangkokan karena dianggap terlalu tua. Gagal di negerinya sendiri, pergilah ia ke Italia menemui ahli inseminasi kondang, dr.Severino Antinori, untuk menjalani pencangkokan di sana.

Kepiawaian dr. Antinori bukan isapan jempol. Sudah 35 orang wanita berusia 48 – 55 tahun berhasil dia bantu. Menurut dokter itu, keberhasilan Ny.X untuk hamil normal sebenarnya hanya 25%. Tapi di luar dugaan, pencangkokan yang menghabiskan biaya US$ 45.000 itu sukses menghadirkan sepasang bayi kembar yang lahir normal dan selamat meski lewat bedah caesar.

Menentang Alam

Tidak kurang Menteri Kesehatan Inggris Virginia Bottomley ikut nimbrung. Ia tegas menyatakan tidak setuju seorang wanita menopause melahirkan anak. “Anak mempunyai hak untuk dibesarkan dalam keluarga yang sesuai,” ujarnya. “Setiap negara seharusnya mempunyai standar prosedur etika semacam itu,” tambahnya. Ia segera akan mengajak para menteri kesehatan di seluruh Eropa yang bisa dihubungi untuk bertindak.

Namun, Simon Jenkins dari Majalah The Times malah mendukung program ini. “Kalau para ahli sekarang dapat membantu wanita mandul atau wanita lanjut usia untuk melahirkan bayi normal, tentu itu baik bagi ilmu pengetahuan,” katanya. “Terapi seperti itu ‘kan pada dasarnya tidak lebih menentang alam daripada aborsi, teknik bayi tabung, atau terapi pemindahan hormon.”

 

Kalau yang diributkan adalah usia calon ibu yang terlalu tua, bukankah dunia sudah penuh dengan anak haram, anak tanpa ayah yang dirawat oleh nenek, atau yatim piatu?” kilahnya. Menurut Jenkins, orang yang sudah berumur justru cenderung lebih bisa menciptakan keluarga yang stabil dan penuh kasih sayang daripada pasangan muda.

Di Italia sendiri, sebenarnya rekayasa dr.Antisori juga menimbulkan banyak reaksi. Apalagi setelah tersiar kabar lain, Rossana Dalla Corte (63) yang bersuamikan Mauro, telah hamil tiga bulan setelah menjalani pencangkokan dengan cara yang sama.

Dr. Romano Forleo, ahli kebidanan dan penyakit kandungan yang juga Senator Partai Kristen Demokrat, misalnya, mendesak penghapusan perlindungan hukum terhadap wanita yang mestinya sudah “pensiun hamil” untuk melahirkan. “Cara ini sungguh melawan alam dan sudah terlalu jauh memanipulasi kehidupan,” ujarnya.

Forleo bahkan mengajukan usulan kepada senat untuk melarang wanita menopause mendapatkan inseminasi buatan. Di Italia praktek dokter seperti itu dilarang hingga saat ini. Begitupun Wakil Presiden Komite Bioetika Nasional Italia Giovani Berlinguer mendesak pemerintah melarang keras praktek medis seperti itu.

Namun baru-baru ini malah tersiar kabar tentang seorang wanita kulit hitam yang menikah dengan pria kulit putih, memilih donor sel telur wanita kulit putih. Tujuannya, agar si anak terhindar dari masalah diskriminasi rasial.