Menabung Sperma, Murah dan Efektif?

Dunia sempat heboh dengan ide cemerlang dari dr. Carl Djerassi, ketua tim yang pertama kali mengembangkan pil KB. Ahli KB kaliber dunia asal Inggris ini selama bertahun-tahun meneliti pengembangan metode kontrasepsi bagi pria. Menurut kesimpulannya, bagi pria menyimpan sperma selagi masih muda adalah cara ber-KB paling logis. Alasannya?

Resiko mempunyai anak di luar rencana akan terhindarkan. Sebab pria yang sudah memiliki simpanan sperma di “Bank” sperma bisa menjalankan vasektomi (pemotongan saluran sperma lewat operasi untuk memandulkan pria secara permanen). Tapi sebaiknya pria “menabung” spermanya ketika masih pada puncak kesuburannya. Benih lelaki itu akan disimpan dalam cairan nitrogen dan dibekukan. Jadi kapan saja ingin punya anak, entah 20 atau 30 tahun kemudian, simpanan spermanya dapat diambil lagi untuk membuahi sel telur istrinya lewat inseminasi buatan.

“Ini cara yang murah dan efektif,” komentar dr. Djerassi walau diakuinya usulannya ini tidak lazim dan masih kontroversial. Tapi di Prancis, konon sudah 17.000 kehamilan dilakukan dengan cara ini.

Usul dr.Djerassi ini belum seberapa kontroversialnya. Para ahli di Inggris sedang menguji percobaan penyimpanan embrio yang dibekukan. Berita terbaru malah menyatakan sudah ada yang berhasil.

Sementara itu, Asosiasi Medis Inggris mengesahkan pemakaian kartu donor ovarium pada wanita subur segala umur. Sel telur pemegang kartu ini dapat dimanfaatkan (orang lain) kalau ia meninggal. Jadi jangan heran bila suatu hari lahir seorang bayi yang ibu kandungnya meninggal karena kecelakaan sewaktu berusia 12 tahun, misalnya.

Awal Juli 1994, di Inggris tersiar berita tentang bayi “yang dilahirkan” seorang ibu yang masih perawan karena memang belum pernah melakukan hubungan seksual. Ia hamil setelah 8 tahun mencoba inseminasi buatan di sebuah klinik.

Shock masyarakat Inggris tak tertahankan lagi ketika muncul penawaran inseminasi buatan dari RS Leicester Royal bagi sepasang wanita lesbian. Pemerintah Inggris langsung saja mempertimbangkan pembatasan teknik fertilitas buatan hanya untuk pasangan yang menikah. Namun pesatnya kemajuan yang terjadi diramalkan membuat para ahli hukum dan etika bakal terus ketinggalan dari ahli-ahli di laboratorium.

Bukan tidak mungkin pada waktu mendatang ada embrio dari sepasang donor (masih hidup atau sudah meninggal) yang sudah dipilih sifat fisiknya dan dibekukan bertahun-tahun sebelumnya dilahirkan oleh “orang tua” yang tidak ada hubungan genetik sama sekali dengan sang bayi. Tidak seperti anak angkat, anak hasil rekayasa ini tidak bisa menemukan asal-usulnya. Apalagi menurut hukum yang berlaku, menyingkap rahasia donor dianggap tindakan kriminal.

Lain dengan Louise Brown

Persoalan yang menyangkut moral dan etika memang memusingkan. Namun, sementara di Inggris jutaan ponsterling dihabiskan untuk penelitian guna membantu pasangan mandul, belum ada satu pun penelitian yang memikirkan efek psikologis pada anak-anak hasil rekayasa labotorium.

Masih ingat Louise Brown, bayi perempuan yang dilahirkan berkat jasa teknik bayi tabung 15 tahun lalu? Teknik pelaksanaannya memang sama, tapi masalahnya lain. Loiuse terlahir dari hasil pembuahan sel telur dan sperma orang tua kandungnya sendiri di Laboratorium. Secara etika tak ada masalah karena Louise benar-benar keturunan kedua orang tuanya. Tapi bagaimana dengan bayi tabung yang tak punya pertalian darah sama sekali dengan “orang tua” nya itu?

Kekhawatiran ini antara lain timbul pada diri Baroness Warnock, ketua komite penelitian fertilitas manusia tahun 80-an. “Anak-anak hasil inseminasi donor akan menemui kesulitan” ujarnya. Tentang penggunaan kartu donor Ovarium, Warnock hanya dapat menyetujui indung telur wanita digunakan untuk tujuan penelitian. Bukan untuk pencangkokan. serum dermayu