Efek Gula Pada Obesitas

Gula adalah karbohidrat. Seperti semua karbohidrat, mereka merupakan sumber energi dalam pola makan kita. Gula adalah istilah yang mencakup semua karbohidrat manis, meskipun istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan sukrosa atau gula pasir, yang merupakan ‘gula ganda’. Tubuh memecah karbohidrat menjadi gula sederhana seperti glukosa, yang dapat langsung digunakan oleh tubuh.

Terdapat beberapa jenis gula yang berbeda. Gula muncul secara alami dalam beberapa makanan, seperti buah-buahan dan produk susu, dan juga ditambahkan ke dalam berbagai jenis makanan. Gula terdapat dalam banyak bentuk, seperti gula putih, mentah, atau gula coklat, madu, atau sirup jagung.

Terlalu banyak gula dalam pola makan dapat menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas dan gigi membusuk. Gula yang sudah diproses menawarkan sumber energi yang cepat dan simpel, tapi tidak mengandung nutrisi lain seperti vitamin dan mineral.

Gula sangat terkenal dalam industri makanan proses karena gula menambahkan rasa, warna, kepadatan dan ketebalan pada produk makanan. Gula juga mencegah jamuran dan berfungsi sebagai pengawet.

Konsumsi gula secukupnya

Konsumsi gula yang diproses ‘secukupnya’ dapat diterima sebagai bagian dari pola makan yang sehat. Para ahli mendefinisikan konsumsi secukupnya sebagai 10 persen dari total konsumsi energi tiap harinya. Meskipun begitu, orang-orang yang mengonsumsi banyak makanan dan minuman bergula sebagai ganti dari pilihan makanan yang lebih bernutrisi kemungkinan mendapat lebih banyak ‘kalori kosong’.

Menambahkan sedikit gula ke dalam makanan berbiji yang sehat, seperti roti gandum biji utuh dan sereal, dapat membuat orang lebih suka memakannya dengan cara membuatnya menjadi lebih enak.

Gula dan obesitas

Telah terjadi banyak perdebatan tentang hubungan antara konsumsi gula dalam jumlah banyak dengan berat badan berlebih atau obesitas. Akan tetapi disetujui bahwa energi (kilojoule) yang melebihi kebutuhan tubuh akan disimpan sebagai lemak.

Gula adalah suatu bentuk kerbohidrat dan menyediakan jumlah energi yang sama per gram dengan karbohidrat dalam bentuk lain yang ditemukan dalam roti, nasi, pasta, dan buah-buahan.

Satu gram karbohidrat menyediakan 16 kJ energi. Satu gram lemak menyediakan 37 kJ. Oleh karena itu, lemak dalam makanan memberikan dua kali lebih banyak energi daripada yang diberikan gula dalam jumlah sama.

Mengonsumsi terlalu banyak gula

Meskipun gula memberikan lebih sedikit energi daripada lemak, gula dapat memengaruhi ‘kepadatan energi’ (jumlah kilojoule) pada makanan dan minuman. Sangat mudah untuk mengonsumsi terlalu banyak makanan, khususnya minuman, dengan kandungan gulan yang tinggi.

Mengonsumsi terlalu banyak gula tidak hanya menyebabkan obesitas atau berat badan berlebih, tapi juga menambahkan jumlah kilojoule dalam makanan. Memakan terlalu banyak makanan semacam ini, tanpa berolahraga secara rutin, akan menyebabkan Anda jadi gemuk.