Alergi dan Intoleransi Makanan

Alergi dan intoleransi makanan seringkali salah dimengerti, karena gejala intoleransi makanan kadang-kadang mirip dengan gejala alergi. Meskipun begitu, intoleransi makanan tidak melibatkan sistem imun serta tidak mengakibatkan reaksi alergi parah (yang dikenal sebagai anaphylaxis). Intoleransi makanan juga tidak muncul dalam tes alergi.

Intoleransi makanan bisa jadi konsep yang sulit dimengerti dan juga sering disalahartikan oleh dokter. Kadang-kadang, substansi dalam makanan dapat meningkatkan frekuensi dan keparahan dari sakit kepala migrain, gatal-gatal atau sakit perut. Oleh karena itu, diagnosis profesional dan konfirmasi alergen sangatlah penting.

Gejala alergi makanan dan intoleransi

Terkadang sulit membedakan antara gejala alergi makanan dan intoleransi makanan. Biasanya, gejala yang disebabkan alergi makanan terjadi segera setelah mengonsumsi makanan tersebut. Sementara gejala yang disebabkan intoleransi makanan bisa saja langsung terjadi dan bisa juga memakan waktu hingga 12 sampai 24 jam untuk terjadi.

Reaksi intoleransi makanan biasanya berhubungan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi. Hal ini mungkin tidak akan terjadi hingga dicapai jumlah tertentu, tetapi jumlahnya berbeda-beda untuk tiap orang.

Gejala alergi dan intoleransi makanan juga bisa disebabkan oleh kondisi lain, jadi sangat penting untuk mengunjungi dokter untuk mendapatkan diagnosis medis.

Gejala intoleransi makanan yaitu:

  • Rasa gugup
  • Gemetar
  • Berkeringat
  • Jantung berdebar-debar
  • Napas berat
  • Sakit kepala, migrain
  • Diare
  • Sensasi terbakar pada kulit
  • Sensasi tertarik pada wajah dan dada
  • Masalah pernapasan – gejala yang seperti asma
  • Reaksi seperti alergi.

Sedangkan gejala ringan hingga sedang dari alergi makanan yaitu:

  • Gatal-gatal, rasa terbakar, dan bengkak di sekitar mulut
  • Wajah dan mata bengkak
  • Hidung beringus
  • Kulit merah-merah
  • Diare, kram perut
  • Kesulitan bernapas, termasuk ngos-ngosan dan asma
  • Muntah dan mual